3 Cara Membuat Magnet

3 Cara Membuat Magnet

Kamu puas menaruh tempelan di pintu kulkas nggak sih? Tempelan kulkas ini lucu-lucu banget, ya! Biasanya termasuk kerap dijadikan oleh-oleh, lho. Hayo, yang pintu kulkasnya penuh dengan tempelan kulkas, coba tunjuk tangan! Hahaha. Kamu dulu mengira-ngira nggak sih, kenapa tempelan kulkas ini mampu menempel di pintu kulkas? Padahal ‘kan nggak ada lemnya ya. Nah, tempelan kulkas ini mampu menempel di pintu kulkasmu karena mereka ini punya magnet di anggota belakangnya. Wah. Kira-kira, bagaimana ya cara menyebabkan magnet? Kuy, kami review cara-cara membuatnya. Ada 3 cara yang mampu anda coba, nih!

Cara pertama untuk membuat magnet adalah dengan menggosokan magnet. Apakah digosok layaknya menggosok barcode di kupon undian? Hmm… konsep menggosoknya kurang lebih sama, sih. Jadi, kalau magnetnya digosokkan secara berulang-ulang pada besi dan baja dengan teratur, maka besi dan baja tersebut bakal berwujud magnetik. Kalau udah berwujud magnetik gitu, bermakna dia udah jadi magnet, ya? Yes, betul sekali Squad. Oh iya, anda kudu ingat, kutub magnet yang dihasilkan pada magnet baru ini tentu berlawanan dengan kutub magnet yang menggosoknya. Jangan lupa, ya!
Cara yang ke-2 disebut dengan elektromagnet. Hah, maksudnya apa tuh? Buat magnetnya mengfungsikan listrik? Betul banget! Proses pembuatan magnet dengan cara elektromagnet ini benar-benar mengandalkan arus listrik. Cara membuatnya cukup mudah, lho. Kamu tinggal melilitkan besi atau baja dengan kawat berarus listrik. Jangan lupa, kawatnya kudu anda hubungkan dengan baterai terutama dahulu, ya. Nanti, lapisan magnet elementer pada besi atau baja tersebut bakal didapat berasal dari arus DC baterai. Tenang, lapisan magnet elementernya udah teratur, kok! Oh iya, arah kutub magnetnya mampu ditentukan lewat kaidah tangan kanan

Cara yang paling akhir namanya induksi. Eh.. bukan induksi layaknya berkenan melahirkan, kan? Hahaha bukan, kok. Proses pembuatan magnet dengan cara induksi ini cukup sederhana, lho. Kamu tinggal mendekatkan besi atau baja dengan bahan magnet yang cukup kuat. Lalu, besi atau baja tersebut bakal jadi magnet, deh. Oh iya, saat mereka dijauhkan berasal dari bahan magnet tersebut, besi bakal benar-benar ringan kehilangan pembawaan magnetnya. Kalau baja bagaimana? Baja selalu mampu mempertahankan pembawaan magnetnya kok, walau udah tidak berada di dekat bahan magnet tersebut.

Selengkapnya : https://www.gurukelas.co.id/

Mengenal Jenis-Jenis Protista Mirip Jamur

Mengenal Jenis-Jenis Protista Mirip Jamur

Akhirnya hingga terhitung terhadap pembahasan paling akhir kita nih mengenai pengklasifikasian kingdom protista. Jika terhadap pembahasan di awalnya kita udah mengulas mengenai jenis-jenis protista sama hewan dan protista sama tumbuhan, maka terhadap pembahasan kali ini, kita dapat mengulas mengenai subkingdom protista yang paling akhir Squad, yakni protista sama jamur. Hmm, kurang lebih apa saja ya jenis-jenis berasal dari subkingdom protista yang paling akhir ini? Kalau begitu, segera saja yuk kita scroll-scroll artikelnya!

Protista sama jamur merupakan protista heterotrof yang memperoleh makanan berasal dari organisme lain bersama dengan langkah menguraikan atau menelan makanannya. Ingat ya, Squad! Protista sama jamur bukan merupakan jamur sejati karena mempunyai susunan sel, langkah reproduksi, dan siklus hidup yang tidak sama berasal dari jamur. Akan tetapi, group protista jenis ini mempunyai bentuk layaknya jamur sejati yang membentuk sporangia atau membentuk filamen yang menyerupai hifa. Nah, jikalau hifa ini merupakan sel-sel yang memanjang membentuk benang sebagai penyusun tubuh jamur makroskopis. Beberapa berasal dari protista sama jamur berukuran kecil dan hidup di lingkungan yang lembab atau basah, lho.

Selanjutnya, macam-macam jamur protista dikelompokkan dalam 2 filum (kelas), yakni jamur lendir (Myxomycota) dan jamur air (Oomycota).

a. Myxomycota (Jamur lendir)

Myxomycota disebut bersama dengan jamur lendir karena mempunyai protoplasma tanpa dinding sel. Myxomycota adalah group jenis jamur lendir yang berwarna kuning karena mempunyai pigmen berwarna kuning atau oranye. Myxomycota berupa heterotrof, mempunyai bentuk tubuh layaknya lendir (plasmodium), dan sanggup bergerak-gerak layaknya amoeba.

Habitat
Myxomycota sanggup hidup di daerah yang lembab dan basah layaknya hutan basah atau sampah yang basah. Kelompok ini terhitung sanggup ditemui di batang kayu yang busuk, lho.

Reproduksi
Reproduksi myxomycota sanggup ditunaikan bersama dengan dua cara, yakni secara generatif dan vegetatif. Pada reproduksi secara generatif, dapat melibatkan peleburan sel gamet bersama dengan langkah singami. Sedangkan, terhadap reproduksi secara vegetatif ditunaikan bersama dengan spora yang nantinya dapat membentuk sel gamet. Spora sendiri adalah satu atau sebagian sel yang sanggup berupa sel haploid atau diploid yang dibungkus oleh susunan pelindung.

Contoh myxomycota pada lain Physarum polycephalum dan Dictyostelium discoideum yang keduanya bermanfaat sebagai pengurai sampah organik dan juga pemakan bakteri.

b. Oomycota (Jamur air)

Oomycota mempunyai bentuk yang tidak sama berasal dari jamur lendir karena mempunyai hifa yang tidak bersekat namun mempunyai dinding sel yang terbuat berasal dari selulosa.

Habitat
Habitat oomycota berada di dalam air, baik itu perairan tawar, kolam, danau, dan juga di tempat-tempat yang lembab.

Reproduksi
Reproduksi oomycota sanggup ditunaikan bersama dengan dua langkah Squad, yakni secara aseksual atau seksual. Reproduksi aseksual ditunaikan bersama dengan langkah membentuk spora yang disebut bersama dengan zoospora. Sedangkan, reproduksi seksual ditunaikan bersama dengan langkah pembentukan gamet yang kemudian dapat beralih menjadi zigot. Nantinya, zigot ini dapat membentuk oospora dan dapat berkembang menjadi oomycota dewasa.

Contoh oomycota pada lain Saprolegnia yang berupa saprofit atau menyerap makanan terhadap hewan yang udah mati, Phytophthora infestans yang merupakan parasit terhadap tanaman kentang, dan Phytophthora nicotinae yakni parasit terhadap tanaman tembakau.

Selengkapnya : https://www.biologi.co.id/

Apa Saja Dasar Pengelompokan Bakteri?

Apa Saja Dasar Pengelompokan Bakteri?

kamu tentu mengetahui kecuali di kurang lebih kita, terlalu enteng untuk menemukan bakteri. Tahukah anda kecuali bakteri terdiri berasal dari berbagai jenis? “Wah, saya pikir cuma tersedia satu type bakteri aja”. Ternyata nggak, Squad, bakteri terdiri berasal dari lebih dari satu kelompok yang berbeda. Kira-kira apa saja dasar pengelompokkan bakteri, ya? Baca artikel ini hingga habis yuk biar anda mengetahui tentang bakteri yang tersedia di dekatmu.

Bakteri merupakan organisme yang miliki sel tunggal, tidak miliki membran inti sel (bersifat prokariotik), dan juga miliki ukuran mikroskopik (untuk melihatnya, anda mesti menggunakan mikroskop). Struktur sel bakteri termasuk simpel kecuali dibanding bersama dengan makhluk hidup lainnya. Bakteri tidak miliki inti sel (nukleus), kerangka sel, dan organel lainnya contohnya mitokondria dan kloroplas.

BENTUK

a.) Basil (bacillus): berbentuk batang atau silinder bersama dengan variasi monobasil (hanya satu), diplobacillus (bergandengan dua-dua) dan streptobacillus (bergandengan berbentuk rantai). Meski begitu, tersedia termasuk yang berbentuk agak bundar supaya disebut coccobacillus. Contoh bakterinya adalah Bacillus anthracis.

b.) Kokus (coccus): berbentuk bulat seperti bola. Variasinya adalah micrococcus (tunggal), diplococcus (bergandengan dua-dua), tetracoccus (bergandengan empat dan membentuk bujur sangkar), sarcina (bergerombol membentuk kubus), staphylococcus (bergerombol), dan streptococcus (bergandengan membentuk rantai). Salah satu umpama bakterinya adalah Staphylococcus aureus.

c.) Spiral (sprillum): bakteri yang berbentuk lengkung dan nampak seperti spiral. Variasi bentuknya tersedia vibrio (berbentuk koma, kecuali lengkung tidak cukup berasal dari setengah lingkaran), spiral (jika wujud lengkung lebih berasal dari setengah lingkaran), dan spirochete (bentuk lengkung membentuk susunan yang fleksibel). Contoh bakterinya adalah Treponema pallidum.

JUMLAH DAN LETAK FLAGELA

Flagela atau yang sering disebut bersama dengan bulu cambuk adalah anggota berasal dari susunan sel yang berbentuk batang atau spiral dan terdapat terhadap dinding sel dan berfaedah sebagai alat gerak.

Beberapa umpama bakterinya adalah Pseudomonas aeruginosa (monotrik), Aquaspirillum serpens (amfitrik), Pseudomonas fluorescent (lofotrik), Salmonella typhosa (peritrik), dan Escherichia coli (atrik).

KEBUTUHAN TERHADAP OKSIGEN

Berbeda berasal dari makhluk hidup lain yang memerlukan oksigen, tersedia lebih dari satu type bakteri yang dapat hidup tanpa oksigen. Bakteri type ini disebut bersama dengan bakteri anaerob. Meski begitu, senantiasa tersedia type bakteri yang memerlukan oksigen untuk hidup atau sering disebut bersama dengan bakteri aerob. Salah satu umpama bakteri aerob adalah bakteri nitrifikasi, yang dapat merubah amonia menjadi nitrat. Sedangkan umpama bakteri anaerob adalah Micrococcus denitrificans yang dapat merombak senyawa menjadi metan.

KARAKTERISTIK DINDING SEL

Cara mengelompokkan bakteri berdasarkan karakteristik dinding sel dikenalkan oleh Hans Christian Gram pertama kali melalui pewarnaan gram. Pada pengelompokan ini, bakteri dibedakan menjadi bakteri gram negatif, bakteri gram positif, dan bakteri tidak berdinding sel.

a.) Bakteri gram negatif adalah bakteri yang miliki lapisan peptidoglikan tidak tebal dan dinding sel dapat menyerap warna merah. Contohnya adalah bakteri bergenus Streptomyces, Streptococcus, Mycrobacterium tuberculosis, dll.

b.) Bakteri gram positif merupakan bakteri yang miliki lapisan peptidoglikan tidak tipis dan dinding selnya dapat menyerap warna violet. Contohnya adalah bakteri ungu, Enterobacteria, Vibrio, dll.

c.) Sama seperti namanya, bakteri tidak berdinding sel berarti tidak miliki dinding sel. Salah satu bakteri yang bertipe ini adalah bakteri Micoplasma.

Baca Juga :

Guru Besar dan Dosen Wajib Publikasi Ilmiah

Guru Besar dan Dosen Wajib Publikasi Ilmiah – Riset adalahhal yang esensial untuk menambah sumber daya insan Indonesia, oleh karena tersebut dosen dan guru besar mesti publikasi.

Demikian dikatakan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir dalam trafik kerja ke Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati), Cirebon, Jawa Barat.

“Saya mengeluarkan kepandaian dosen dan guru besar mesti publikasi. Profesor tidak boleh melupakan kewajiban,” ujarnya.

Rektor Universitas Swadaya Gunung Jati Mukarto Siswoyo mengatakan, bahwa Unswagati bakal terus mendukung kepandaian Menristekdikti dalam menambah mutu Perguruan Tinggi di Indonesia, dengan menambah pengembangan sumber daya alumni Unswagati serta mendorong sivitas akademika Unswagati guna lebih produktif mengerjakan penelitian dan publikasi ilmiah.

Rektor berharap supaya penelitian itu dapat dipakai sebagai bahan ajar guna mahasiswa.

“Para dosen kami dorong untuk mengemukakan proposal penelitian melewati Simlitabmas dan LPDP. Kami pun menyediakan pendanaan penelitian internal Riset Unggulan Unswagati untuk menyokong dosen mengerjakan penelitian dan publikasi ilmiah,” ujarnya.

Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati Dadang Iskandar menuliskan pihaknya terus berupaya untuk menambah layanan edukasi tinggi untuk masyarakat diantaranya melewati peningkatan sumber daya insan dan sarana dan prasarana.

Simak di www.bahasainggris.co.id/

Google Bakal Bekali Android supaya Bisa Dipakai di Ponsel Lipat

Google Bakal Bekali Android supaya Bisa Dipakai di Ponsel Lipat – Google memberitahukan bahwa Android bakal mendukung kelompok perangkat yang bakal mereka sebut sebagai foldable. Dalam konferensi Android Developer, VP of engineering Google, Dave Burke menyinggung bahwa Google, “tengah menambah Android guna memaksimalkan ponsel dengan format baru ini semudah mungkin.”

Ponsel dengan layar lipat kelihatannya akan menjadi tren baru. Sebab, sejumlah vendor laksana Samsung dan Huawei tengah menyiapkan ponsel lipat mereka. Bahkan startup asal China, Royole, sudah memamerkan ponsel lipat mereka dan siap dijual Desember mendatang.

Ponsel lipat bakal memberi dimensi baru soal bagaimana anda berinteraksi dengan smartphone. Sebab menurut keterangan dari Burke, ponsel jenis ini bakal menawarkan satu fitur baru yang dinamakan screen continuity (layar yang berkelanjutan).

“Perangkat yang sekaligus dapat menjadi ponsel dan tablet (ini) pada dasarnya terdiri dari dia varian. Perangkat dengan dua layar dan perlengkapan satu layar […] Fitur yang urgen untuk format perangkat laksana ini ialah apa yang kami sebut screen continuity.”

Contoh pemakaiannya ialah ketika pemakai tengah menggunakan software saat ponsel ditekuk, software itu tetap dapat dimainkan saat layar dimulai ke mode yang lebih lebar. Butuh aplikasi khusus untuk menciptakan transisi ini terlihat mulus.

Respons layar yang diinginkan semulus saat layar ponsel ketika ini berubah dari mode portrait ke mode landscape. Hanya saja, sistem operasi ponsel lipat ini harus bereaksi cepat saat layar dimulai dan dilipat, seperti diterangkan TechCrunch.

Google menyinggung bahwa pihaknya berkolaborasi erat dengan Samsung guna menilai bagaimana mereka membina platform Android yang sesuai untuk ponsel foldable. Namun, konsentrasi Google ialah meyakinkan bahwa ponsel ini menjadi sistem operasi yang dapat digunakan oleh pembuat ponsel OEM manapun.

Mengutip The Verge, andai Google tidak menyerahkan platform itu, maka tiap pembuat ponsel bakal mulai menciptakan modifikasi Android mereka sendiri dan mengacaukan ekosistem sistem operasi itu. Director of product management Android Sagar Kamdar menyinggung bahwa mereka tengah berkolaborasi intensif dengan seluruh OEM guna meyakinkan mereka mempunyai API untuk seluruh pengembang.

Simak di www.sekolahan.co.id/

Siklus Pengembangan KTSP

Siklus Pengembangan KTSP

Siklus Pengembangan KTSP
Siklus Pengembangan KTSP

Seperti halnya dalam unsur manajemen yang lain, pengembangangan kurikulum  mencakup  tahap perencanaan, pelaksanaan (implementasi),  monitoring, dan evaluasi. Siklus pengembangan kurikulum tersebut digambarkan dalam gambar 01.

Siklus pengembangan kurikulum secara umum tersebut dijadikan landasan dalam proses pengembangan KTSP di madrasah. Siklus pengembangan kurikulum di madrasah mencakup (1) analisis kebutuhan, (2) perencanaan, (3) implementasi, dan (4) monitoring, dan (5) evaluasi dan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perencanaan kembali KTSP yang lebih sesuai.  Di tingkat satuan pendidikan, siklus pengembangan kurikulum KTSP dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan madrasah masing-masing. Misalnya : madrasah melakukan pengembangan kurikulum dalam waktu 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, dan seterusnya.)


KTSP terdiri atas KTSP dokumen I dan KTSP dokumen II. KTSP dokumen I berisi : pendahuluan, tujuan tingkat satuan pendidikan, visi dan misi madrasah, tujuan madrasah, struktur dan muatan kurikulum, dan kalender pendidikan. KTSP dokumen II berisi silabus semua mata pelajaran yang telah ditetapkan pada struktur kurikulum di KTSP dokumen I .

 

Kepala madrasah, guru, pengawas, komite madrasah, dan Dinas/Depag  diharapkan  berperan aktif untuk mengembangkan  KTSP, baik dokumen I maupun II.   Perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi kurikulum (KTSP)  melibatkan semua unsur tersebut secara simultan.   Ini penting karena kurikulum baru telah mengalihkan tanggung jawab mengembangkan kurikulum pada madrasah-madrasah.
Tabel 01 berikut menunjukkan  rincian  siklus pengembangan  kurikulum yang meliputi tahap (1) analisis konteks, (2) perencanaan,  (3) implementasi,  (4) monitoring, dan evaluasi KTSP serta peran dan tanggung jawab   kepala madrasah ,  tim pengembang kurikulum, guru,  komite madrasah, pengawas, dan Kantor Departemen Agama Kabupten/Kota.



Tabel 01 Rincian  Siklus Pengembangan Kurikulum
Langkah

Kegiatan
Rincian kegiatan
Pertama
Analisis  Konteks dan analisis kebutuhan

  • Kepala Madrasah  membentuk tim pengembang kurikulum  madrasah.
  • Tim pengembang kurikulum, kepala madrasah, guru, dengan didampingi pengawas  melaksanakan analisis konteks dan analisis kebutuhan
  • Tim pengembang, kepala madrasah, guru, komite, stakeholder melakukan analisis potensi peserta didik, madrasah,  daerah,  unggulan lokal, unggulan global, analisis perkembangan IPTEK

Kedua
Perencanaan Kurikulum:Merencanakan  KTSP Dokumen I dan II


  • Kepala madrasah bersama tim pengembang kurikulum  madrasah  menyusun KTSP Dokumen I    menentukan  visi,misi, tujuan madrasah,struktur dan muatan kurikulum dan kalender pendidikan.
  • Guru  difasilitasi  tim pengembang kurikulum mengembangkan KTSP dokumen II (menyusun silabus dan  RPP,  SK/ KD MULOK).
  • Depag/ dinas memfasilitasi kepala madrasah, guru, komite dan  pengawas dalam mengembangkan KTSP.

Ketiga
Implementasi kurikulum:Mengelola penerapan
Hasil kajian pada penyusunan dokumen 1 dan II

  • Tim pengembang kurikulum mensosialisasikan  KTSP dokumen I dan II.
  • Kepala Madrasah memfasilitasi sarana, lingkungan kondusif,
  • Guru melaksanakan RPP, guru BK, pelaksana pengembangan diri  melaksanakan kegiatan
  • Komite memfasilitasi sarana.
  • Pengawas membimbing pelaksanaan/tempat konsultasi
  • Mengarahkan dan menggerakkan sumber daya

Keempat
Monitoring dan supervisi (pengawasan)

  • Kepala madrasah,  pengawas, komite madrasah mengawasi pelaksanaan, apakah sesuai dengan rencana, apa kendalanya, bagaimana solusinya
  • Kepala madrasah mengadakan pertemuan untuk memantau/ merefleksikan  pelaksanaan
  • Kepala madrasah, pengawas, komite madrasah mengadakan kunjungan kelas, wawancara dengan peserta didik, untuk mencari data pelaksaan kurikulum

Kelima
Evaluasi kurikulum:
Pengumpulan data, pengukuran, dan penilaian

  • Kepala madrasah,  pengawas, komite madrasah, mengumpulkan dan menganalisis hasil lalu  membandingkan dengan indikator keberhasilan yang telah disusun
  • Melaksanakan evaluasi menyeluruh terhadap pencapaian hasil, proses, dan pengelolaan
  • Kepala madrasah merefleksikan proses   manajemen yang telah dilakukan
  • Menentukan tindak lanjut untuk perbaikan

Hakikat Pembelajaran Pengayaan dalam KTSP

Hakikat Pembelajaran Pengayaan dalam KTSP

pembelajaran KTSP
pembelajaran KTSP

 

Dalam rangka membantu peserta didik mencapai standar isi dan standar kompetensi lulusaAn, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan agar interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Untuk mencapai tujuan dan prinsip-prinsip pembelajaran tersebut tidak jarang dijumpai adanya peserta didik yang memerlukan tantangan berlebih untuk mengoptimalkan perkembangan prakarsa, kreativitas, partisipasi, kemandirian, minat, bakat, keterampilan fisik, dsb. Untuk mengantisipasi potensi lebih yang dimiliki peserta didik tersebut, setiap satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program pembelajaran pengayaan.

A. Hakikat Pembelajaran Pengayaan

Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya.
Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, lazimnya guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui kemampuan peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari sebelum pembelajaran dimulai. Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb.
Melengkapi strategi pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Penilaian proses juga digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran bila dijumpai hambatan-hambatan.

Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan kompetensi tertentu. Penilaian akhir program ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi (tingkat penguasaan) minimal atau ketuntasan belajar seperti yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.
Jika ada peserta didik yang lebih mudah dan cepat mencapai penguasaan kompetensi minimal yang ditetapkan, maka sekolah perlu memberikan perlakuan khusus berupa program pembelajaran pengayaan. Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya. Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.

B. Jenis Pembelajaran Pengayaan
Ada tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:
  1. Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak tercakup dalam kurikulum.
  2. Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.
  3. Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah. Pemecahan masalah ditandai dengan: (a) identifikasi bidang permasalahan yang akan dikerjakan; (b) penentuan fokus masalah/problem yang akan dipecahkan; (c) penggunaan berbagai sumber; (d) pengumpulan data menggunakan teknik yang relevan; (e) analisis data; dan (f) penyimpulan hasil investigasi.
Sekolah tertentu, khususnya yang memiliki peserta didik lebih cepat belajar dibanding sekolah-sekolah pada umumnya, dapat menaikkan tuntutan kompetensi melebihi standari isi. Misalnya sekolah-sekolah yang menginginkan memiliki keunggulan khusus.

C. Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan
Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu (1) mengidentifikasi kelebihan kemampuan peserta didik, dan (2) memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran pengayaan.
1. Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar
a. Tujuan
Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara lain meliputi:
  1. Belajar lebih cepat. Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan kompetensi (SK/KD) mata pelajaran tertentu.
  2. Menyimpan informasi lebih mudah Peserta didik yang memiliki kemampuan menyimpan informasi lebih mudah, akan memiliki banyak informasi yang tersimpan dalam memori/ ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan.
  3. Keingintahuan yang tinggi. Banyak bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin tahu yang tinggi.
  4. Berpikir mandiri. Peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin.
  5. Superior dalam berpikir abstrak. Peserta didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah.
  6. Memiliki banyak minat. Mudah termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan.

b. Teknik
Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, pengamatan, dsb.
  1. Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb.
  2. Tes inventori. Tes inventori digunakan untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar, dsb.
  3. Wawancara. Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.
  4. Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.

2. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan

Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:
  1. Belajar Kelompok. Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.
  2. Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.
  3. Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.
  4. Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.

Perlu diperhatikan bahwa penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini terutama terkait dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran sekolah biasa. Namun demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.
Sekolah dapat juga memfasilitasi peserta didik dengan kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan pengembangan diri dengan spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk bidang sains. Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun internasional seperti olimpiade internasional fisika, kimia dan biologi.
Sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran, kegiatan pengayaan tidak lepas kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik yang normal.
Adaptasi dan disarikan dari :
Depdiknas. 2008. Sistem Penilaian KTSP: Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pengayaan.
Baca Juga :

Penjelasan ANALISIS KORELASI

Penjelasan ANALISIS KORELASI

ANALISIS KORELASI
ANALISIS KORELASI

KORELASI adalah istilah statistik yang menyatakan derajat hubungan linier antara dua variabel atau lebih, yang ditemukan oleh Karl Pearson pada wal 1900, oleh sebab itu terkenal dengan sebutan korelasi Pearson Product Moment (PPM). korelasi adalah salah satu teknik analisis statistik yang paling banyak digunakan oleh para peneliti. karena para peneliti umumnya tertarik terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dan mencoba untuk menghubungkannya. 


Misalnya kita ingin menghubngkan antara tinggi badan dengan berat badan, antara umur dengan tekanan darahnya, antara motivasi dengan prestasi belajar atau bekerja dan seterusnya. Hubungan antara dua variabel didalam teknik korelasi bukanlah dalam arti hubungan sebab akibat (timbal-balik), melainkan hanya merupakan hubungan searah saja. hubungan sebab akibat, misalnya : kemiskinan dengan kejahatan, kebersihan dengan kesehatan, kemiskinan dengan kebodohan.. dalam korelasi hanya mengenal hubungan searah saja (Bukan timbal balik) , misalnya tinggi badan menyebabkan berat badanya bertambah, tetapi berat badannya bertambah belum tentu menyebabkan tinggi badannya bertambah.


akibatnya dalam korelasi dikenal penyebab dan akibatnya. dan data akibat atau yang dipengaruhi disebut variabel terikat. istilah bebas disebut juga dengan independen yang biasaya dilambangkan dengan huruf X atau X1. sedangkan istialh terikat disebut dependen yang biasanya dilambangkan dengan huruf Y. bagaimanakah menentukan bahwa variabel itu bebas atau terikat? jawaban ialah tergantung dari landasan teori yang kita pakai.

Korelasi merupakan teknik analisis yang  termasuk dalam salah satu teknik pengukuran asosiasi / hubungan (measures of association). Pengukuran asosiasi   merupakan istilah umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam statistik bivariat yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel. Diantara sekian banyak teknik-teknik pengukuran asosiasi, terdapat dua teknik korelasi yang sangat populer sampai sekarang, yaitu Korelasi Pearson Product Moment dan Korelasi Rank Spearman. Selain kedua teknik tersebut, terdapat pula teknik-teknik korelasi lain, seperti Kendal, Chi-Square, Phi Coefficient, Goodman-Kruskal, Somer, dan Wilson.

Pengukuran asosiasi mengenakan nilai numerik untuk mengetahui tingkatan asosiasi atau kekuatan hubungan antara variabel. Dua variabel dikatakan berasosiasi jika perilaku variabel yang satu mempengaruhi variabel yang lain. Jika tidak terjadi pengaruh, maka kedua variabel tersebut disebut independen.


Korelasi bermanfaat untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel (kadang lebih dari dua variabel) dengan skala-skala tertentu, misalnya Pearson data harus berskala interval atau rasio; Spearman dan Kendal menggunakan skala ordinal; Chi Square menggunakan data nominal. Kuat lemah hubungan diukur diantara jarak (range) 0 sampai dengan 1. Korelasi mempunyai kemungkinan pengujian hipotesis dua arah (two tailed). Korelasi searah jika nilai koefesien korelasi diketemukan positif; sebaliknya jika nilai koefesien korelasi negatif, korelasi  disebut tidak searah. Yang dimaksud dengan koefesien korelasi ialah suatu pengukuran statistik kovariasi atau asosiasi antara dua variabel. Jika koefesien korelasi diketemukan tidak sama dengan nol (0), maka terdapat ketergantungan antara dua variabel tersebut. Jika  koefesien korelasi diketemukan +1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) positif.

Jika  koefesien korelasi diketemukan -1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) negatif.

Dalam korelasi sempurna tidak diperlukan lagi pengujian hipotesis, karena kedua variabel mempunyai hubungan linear yang sempurna. Artinya variabel X mempengaruhi variabel Y secara sempurna. Jika korelasi sama dengan nol (0), maka tidak terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut.

 


 

Dalam korelasi sebenarnya tidak dikenal istilah variabel bebas dan variabel tergantung. Biasanya dalam penghitungan digunakan simbol X untuk variabel pertama dan Y untuk variabel kedua. Dalam contoh hubungan antara variabel remunerasi dengan kepuasan kerja, maka variabel remunerasi merupakan variabel X dan kepuasan kerja merupakan variabel Y.

Variabel yang akan kita hubngkan terdiri atas berbagai tingkatan data. tingkatan data meliputi data nominal, interval, dan rasio. tingkatan data tersebutt menentukan alaisis korelasi mana yang paling tepat digunakan. oleh sebab itu, sebelum mempelajari analisis korelasi, maka macam-macam tingkatan data tersebut hasrus sudah dipahami sepenuhnya.

Kegunaan

Pengukuran asosiasi berguna untuk mengukur kekuatan (strength) hubungan antar dua variabel atau lebih. Contoh: mengukur hubungan antara variabel:

  • Motivasi kerja dengan produktivitas
  • Kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan
  • Tingkat inflasi dengan IHSG

Pengukuran ini hubungan antara dua variabel untuk masing-masing kasus akan menghasilkan keputusan, diantaranya:

  • Hubungan kedua variabel tidak ada
  • Hubungan kedua variabel lemah
  •  Hubungan kedua variabel cukup kuat
  •  Hubungan kedua variabel kuat
  •  Hubungan kedua variabel sangat kuat

Penentuan tersebut didasarkan pada kriteria yang menyebutkan jika hubungan mendekati 1, maka hubungan semakin kuat; sebaliknya jika hubungan mendekati 0, maka hubungan semakin lemah.


Teori Korelasi

Korelasi dan Kausalitas

Ada perbedaan mendasar antara korelasi dan kausalitas. Jika kedua variabel dikatakan berkorelasi, maka kita tergoda untuk mengatakan bahwa variabel yang satu mempengaruhi variabel yang lain atau dengan kata lain terdapat hubungan kausalitas. Kenyataannya belum tentu. Hubungan kausalitas terjadi jika variabel X mempengaruhi Y. Jika kedua variabel diperlakukan secara simetris (nilai pengukuran tetap sama seandainya peranan variabel-variabel tersebut ditukar)  maka meski kedua variabel berkorelasi tidak dapat dikatakan mempunyai hubungan kausalitas. Dengan demikian, jika terdapat dua variabel yang berkorelasi, tidak harus terdapat hubungan kausalitas.

Terdapat dictum yang mengatakan “correlation does not imply causation”. Artinya korelasi tidak dapat digunakan secara valid untuk melihat  adanya hubungan kausalitas dalam variabel-variabel. Dalam korelasi aspek-aspek yang melandasi terdapatnya hubungan antar variabel mungkin tidak diketahui atau tidak langsung. Oleh karena itu dengan menetapkan korelasi dalam hubungannya dengan variabel-variabel yang diteliti tidak akan memberikan persyaratan yang memadai untuk menetapkan hubungan kausalitas kedalam variabel-variabel  tersebut. Sekalipun demikian bukan berarti bahwa korelasi tidak dapat digunakan sebagai indikasi adanya hubungan kausalitas antar variabel. Korelasi dapat digunakan sebagai salah satu bukti adanya kemungkinan terdapatnya hubungan kausalitas tetapi tidak dapat memberikan indikasi hubungan kausalitas seperti apa jika memang itu terjadi dalam variabel-variabel yang diteliti, misalnya model recursive, dimana X mempengaruhi Y atau non-recursive, misalnya X mempengaruhi Y dan Y mempengaruhi X.


Dengan untuk mengidentifikasi hubungan kausalitas tidak dapat begitu saja dilihat dengan kaca mata korelasi tetapi sebaiknya menggunakan model-model yang lebih tepat, misalnya regresi, analisis jalur atau structural equation model.

 

Korelasi dan Linieritas

Terdapat hubungan erat antara pengertian korelasi dan linieritas. Korelasi Pearson, misalnya, menunjukkan adanya kekuatan hubungan linier dalam dua variabel. Sekalipun demikian jika asumsi normalitas salah maka nilai korelasi tidak akan memadai untuk membuktikan adanya hubungan linieritas. Linieritas artinya asumsi adanya hubungan dalam bentuk garis lurus antara variabel. Linearitas antara dua variabel dapat dinilai melalui observasi scatterplots bivariat. Jika kedua variabel berdistribusi normal dan behubungan secara linier, maka  scatterplot berbentuk oval; jika tidak berdistribusi normal scatterplot tidak berbentuk oval.


Sumber : Ngelag.Com

 

Pilar – Pilar Dalam Pendidikan Karakter Yang Harus Dipahami

Pilar – Pilar Dalam Pendidikan Karakter Yang Harus Dipahami

Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa masing-masing orang dapat mengamini – nilai-nilai yang tidak berisi politis, religius, atau bias budaya. Beberapa hal inilah ini yang bisa kita sampaikan untuk menolong siswa mengetahui Enam Pilar Pendidikan Berkarakter, yaitu inilah ini :

1. Trustworthiness (Kepercayaan)

Jujur, tidak boleh menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal – mengerjakan apa yang kamu katakan kamu akan melakukannya, mohon keberanian untuk mengerjakan hal yang benar, bangun reputasi yang baik, patuh – berdiri dengan keluarga, rekan dan negara.

2. Recpect (Respek)

Bersikap toleran terhadap perbedaan, pakai sopan santun, bukan bahasa yang buruk, pertimbangkan perasaan orang lain, tidak boleh mengancam, memukul atau menyakiti orang lain, damailah dengan kemarahan, hinaan dan perselisihan.

3. Responsibility (Tanggungjawab)

Selalu kerjakan yang terbaik, pakai kontrol diri, disiplin, berpikirlah sebelum beraksi – mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas opsi anda.

4. Fairness (Keadilan)

Bermain cocok aturan, ambil seperlunya dan berbagi, berpikiran terbuka; memperhatikan orang lain, tidak boleh mengambil deviden dari orang lain, tidak boleh menyalahkan orang beda sembarangan.

5. Caring (Peduli)

Bersikaplah sarat kasih sayang dan menunjukkan kamu peduli, ungkapkan rasa syukur, ampuni orang lain, menolong orang yang membutuhkan.

6. Citizenship (Kewarganegaraan)

Menjadikan sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik, bekerja sama, melibatkan diri dalam hal masyarakat, menjadi tetangga yang baik, mentaati hukum dan aturan, memuliakan otoritas, mengayomi lingkungan hidup.

Semoga Bermanfaat. Selengkapnya Baca : www.pelajaran.id/

Konflik dalam Kepemimpinan

Konflik dalam Kepemimpinan

Konflik dalam Kepemimpinan
Konflik dalam Kepemimpinan
Kekuasaan dapat didefinisikan sebagai suatu potensi pengaruh dari seorang pemimpin. Kekuasaan seringkali dipergunakan silih berganti dengan istilah pengaruh dan otoritas.
Berbagai sumber dan jenis kekuasaan dari beberapa teoritikus seperti French dan Raven, Amitai Etzioni, Kenneth W. Thomas, Organ dan Bateman, dan Stepen P Robbins telah dikemukakan dalam kegiatan belajar ini.
Kekuasaan merupakan sesuatu yang dinamis sesuai dengan kondisi yang berubah dan tindakan-tindakan para pengikut. Berkaitan dengan hal ini telah dikemukakan social exchange theory, strategic contingency theory dan proses-proses politis sebagai usaha untuk mempertahankan, melindungi dan me-ningkatkan kekuasaan.
Dalam kaitan dengan kekuasaan, para pemimpin membutuhkan kekuasaan tertentu agar efektif. Keberhasilan pemimpin sangat tergantung pada cara penggunaan kekuasaan. Pemimpin yang efektif kemungkinan akan menggunakan kekuasaan dengan cara yang halus, hati-hati, meminimalisasi perbedaan status dan menghindari ancaman- ancaman terhadap rasa harga diri para pengikut.



Pengaruh

Pengaruh sebagai inti dari kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mengubah sikap, perilaku orang atau kelompok dengan cara-cara yang spesifik. Seorang pemimpin yang efektif tidak hanya cukup memiliki kekuasaan, tetapi perlu pula mengkaji proses-proses mempengaruhi yang timbal balik yang terjadi antara pemimpin dengan yang dipimpin.
Para teoretikus telah mengidentifikasi berbagai taktik mempengaruhi yang berbeda-beda seperti persuasi rasional, permintaan berinspirasi, pertukaran, tekanan, permintaan pribadi, menjilat, konsultasi, koalisi, dan taktik mengesahkan. Pilihan taktik mempengaruhi yang akan digunakan oleh seorang pemimpin dalam usaha mempengaruhi para pengikutnya tergantung pada beberapa aspek situasi tertentu. Pada umumnya, para pemimpin lebih sering menggunakan taktik-taktik mempengaruhi yang secara sosial dapat diterima, feasible, memungkinkan akan efektif untuk suatu sasaran tertentu, memungkinkan tidak membutuhkan banyak waktu, usaha atau biaya.
Efektivitas masing-masing taktik mempengaruhi dalam usaha untuk memperoleh komitmen dari para pengikut antara lain tergantung pada keterampilan pemimpin, jenis permintaan serta position dan personal power pemimpin tersebut.


Konflik

Konflik dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana sebuah usaha dibuat dengan sengaja oleh seseorang atau suatu unit untuk menghalangi pihak lain yang menghasilkan kegagalan pencapaian tujuan pihak lain atau meneruskan kepentingannya.
Ada beberapa pandangan tentang konflik yaitu pandangan tradisional, netral dan interaksionis. Pandangan tradisional mengatakan bahwa konflik itu negatif, pandangan netral menganggap bahwa konflik adalah ciri hakiki tingkah laku manusia yang dinamis, sedangkan interaksionis mendorong terjadinya konflik.
Untuk mengurangi, memecahkan dan menstimulasi konflik ada beberapa pendekatan atau strategi yang dapat ditempuh sebagaimana disarankan oleh beberapa teoretikus.



PERKEMBANGAN MUTAKHIR TENTANG KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan Perempuan

Perubahan lingkungan dan pergeseran budaya telah mempengaruhi dinamika kepemimpinan perempuan. Pada umumnya pemimpin perempuan cenderung diberikan porsi pada organisasi perempuan dan sosial. Namun dengan adanya globalisasi telah merubah paradigma kepemimpinan ke arah pertimbangan core competence yang dapat berdaya saing di pasar global Oleh sebab itu banyak organisasi berkaliber dunia yang memberikan kesempatan bagi perempuan yang mampu dan memenuhi persyaratan kepemimpinan sesuai situasi dan kondisi sekarang ini.
Hambatan bagi kepemimpinan perempuan lebih banyak akibat adanya stereotipe negatif tentang kepemimpinan perempuan serta dari mental (perempuan) yang bersangkutan. Stereotipe-stereotipe tersebut muncul sebagai akibat dari pemikiran individu dan kolektif yang berasal dari latar belakang sosial budaya dan karakteristik pemahaman masyarakat terhadap gender serta tingkat pembangunan suatu negara atau wilayah.
Dari hasil temuan, ternyata tidak ditemukan adanya perbedaan antara gaya kepemimpinan perempuan dengan laki-laki, walaupun ada sedikit perbedaan potensi kepemimpinan perempuan dan laki-laki, di mana keunggulan dan kelemahan potensi kepemimpinan perempuan dan laki-laki merupakan hal yang saling mengisi. Begitu juga dengan karakteristik kepemimpinan perempuan dan laki-laki dapat disinergikan menjadi kekuatan yang harmonis bagi organisasi yang bersangkutan.
Untuk menduduki posisi kepemimpinan dalan organisasi di era global, perempuan perlu meningkatkan ESQ dan memperkaya karakteristik kepemimpinannya dengan komponen-komponen, antara lain pembangunan mental, ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial serta menutupi agresivitasnya menjadi ketegasan sikap, inisiatif, dan percaya diri akan kompetensinya.


Kepemimpinan dalam Beragam Budaya dan Negara

Pada kegiatan belajar ini telah Anda lihat bahwa terdapat perbedaan mendasar dari sikap dan perilaku pemimpin pada berbagai Negara atau budaya. Namun demikian, terdapat dimensi kepemimpinan yang secara universal relatif sama yaitu setiap pemimpin diharapkan mampu proaktif dan tidak otoriter. Di samping itu, terdapat pula beberapa variasi sikap dan perilaku pemimpin di dalam kelompok budaya dan di dalam Negara pada berbagai budaya atau Negara. Demikian pula terdapat perbedaan sikap dan perilaku pemimpin pada Negara- Negara yang menganut system nilai berbeda.


Kepemimpinan Visioner

Seorang pemimpin visioner harus bisa menjadi penentu arah, agen perubahan, juru bicara dan pelatih.
Oleh karena itu seorang pemimpin visioner harus:
  1. menyusun arah dan secara personal sepakat untuk menyebarkan kepemimpinan visioner ke seluruh organisasi.
  2. memberdayakan para karyawan dalam bertindak untuk mendengar dan mengawasi umpan balik.
  3. selalu memfokuskan perhatian dalam membentuk organisasi mencapai potensi terbesarnya.

Kepemimpinan Ahli

Pada era globalisasi, banyak terjadi perubahan dalam segala sendi kehidupan masyarakat, terutama yang berhubungan dengan bidang ekonomi perdagangan, industri, telekomunikasi dan informasi. Dalam masa post modernism yang sekarang sedang kita jalani, perubahan paradigma manajemen turut bergerak secara dinamis, dari paradigma manajemen klasik hingga paradigma post modernism yang salah satunya diwakili oleh learning organization dengan pengukuran kinerja balanced score card yang memperhitungkan pula keterkaitan dengan lingkungan luar organisasi.
Secara historis, paradigma kepemimpinan tersebut terbagi dalam beberapa lokus dan fokus keilmuan, yang diwakili dalam kelompok paradigma aliran wilayah utara, barat, timur dan global baru. Hal tersebut, dipaparkan dalam beberapa kategori, antara lain dalam kategori manajer individual, yang terbagi menjadi manajemen efektif (Drucker), manajemen perusahaan (Peters), manajemen kualitas total (Toyota), keahlian diri pada bidang tertentu (self- mastery); kategori kelompok sosial terbagi menjadi kerjasama tim yang efektif (Likert), pembagian nilai (Deal/Kennedy), siklus atau lingkaran kualitas (Sony), sinergi sosial; kategori organisasi secara keseluruhan yang terbagi menjadi organisasi yang hirarkis (Chandler), organisasi jaringan (Handy) organisasi ramping (Honda), organisasi yang belajar (learning organization), kategori ekonomi dan masyarakat yang terbagi menjadi tanggungjawab badan hukum (Chandler), perusahaan swasta yang mandiri atau bebas (Gilder), modal atau investasi sumber daya manusia (Ozaka) dan pembangunan yang berkelanjutan.

Globalisasi juga telah mempengaruhi terjadinya perubahan paradigma dalam praktik manajemen khususnya kepemimpinan. Secara garis besar, perbedaaan antara paradigma lama dan baru dilihat dari aspek-aspek antara lain berikut ini:
  1. dari aspek tanggung jawab organisasi: paradigma lama menitikberatkan pada pertanggungjawaban organisasi tentang lingkungan akibat dari proses input-proses-output organisasi sedangkan pada paradigma baru menekankan tanggungjawab pada pembangunan yang berkelanjutan.
  2. dari aspek tim manajemen: paradigma lama menekankan struktur dan fungsi interaksi kelompok untuk mencapai sinergi sosial dalam mengelola organisasi masing-masing, sedangkan paradigma baru menitikberatkan pada struktur dan proses dengan pendekatan learning organization.
  3. dari aspek kepemimpinan manajemen: paradigma lama menitikberatkan pada kapasitas individual manajer dalam memimpin, sedangkan paradigma baru menekankan keunggulan diri manajer (self-mastery) dalam memimpin.

Kesemua perjalananan dan dinamika faktor-faktor organisasi tersebut baik eksternal maupun internal, telah membawa perubahan paradigma kepemimpinan yang dinamis dan fleksibel. Perubahan tersebut banyak menyangkut pada pembentukan mental pribadi manajer dan pembentukan visi manajer serta organisasi. Sumber : www.gurupendidikan.co.id