Melejitkan Semangat Belajar Siswa Ala Guru Jabi

Melejitkan Semangat Belajar Siswa Ala Guru Jabi

Melejitkan Semangat Belajar Siswa Ala Guru Jabi

Melejitkan Semangat Belajar Siswa Ala Guru Jabi
Melejitkan Semangat Belajar Siswa Ala Guru Jabi

Banyak guru yang berhasil menghadapi masalah-masalah terkait dengan semangat belajar, tapi tidak jarang ada guru yang cuek bahkan cenderung apatis terhadap semangat siswanya. Akibatnya, hasil proses pembelajaran tidak maksimal atau cenderung gagal.

Semangat belajar menjadi salah satu modal utama dalam sebuah pembelajaran. Dengan adanya semangat pembelajaran akan menjadi sangat menyenangkan.

Sebenarnya di dalam sebuah pembelajaran hal yang paling penting adalah pola interaksi

antara guru dan peserta didik. Sebaik apapun pemahaman dan penguasaan materi yang dimiliki guru, jika gagal dalam menerapkan pola interaksi kepada peserta didik maka akan menghambat proses pembelajaran. Pola interaksi di sini mengharuskan komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik.

Dalam pola komunikasi efektif harus ada pertukaran informasi, ide, perasaan yang

menghasilkan perubahan sikap hingga terjalin sebuah hubungan baik antara pemberi dan penerima. Selain ini perlu adanya respek dan empati terhadap lawan bicara kita.

Respek adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran bicara kita. Sementara empati adalah sebuah kemampuan individu untuk menempatkan diri pada sebuah situasi yang dihadapi oleh orang lain. Dalam memberikan respek dan empati yang baik dalam pembelajaran, dapat diawali dengan guru menyapa para peserta didik.

Hal ini pulalah yang terjadi di salah satu penerima manfaat program Sekolah Literasi

Indonesia (SLI) yang dilaksanakan oleh Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan). SLI sendiri merupakan program peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sekolah dengan pendekatan literasi. Program ini dilaksanakan di 18 wilayah Indonesia.

Guna memastikan implementasi program berjalan lancar dan sesuai perencanaan pada

setiap wilayah SLI, DD Pendidikan menempatkan seorang Konsultan Relawan. Mereka biasa dipanggil Kawan SLI, selain sebagai akronim dari Konsultan Relawan, juga dimaksudkan agar terasa lebih dekat dan akrab.

Adi Setiwan adalah Kawan SLI yang ditempatkan di SDN 227 Bengkulu Utara. Menurut

Adi, permasalahan yang terjadi disekolah terkait kegagalan pola interaksi yang dilakukan guru kepada peserta didik, terutama di kelas 1.

Ketika guru sedang memberikan materi, bukan hal yang aneh ada peserta didik yang berlari kesana kemari untuk bermain, berteriak-teriak, berkelahi, dan ada pula peserta didik yang diam, saking pendiamnya seperti yang tidak bersemangat belajar.

Untuk mengatasi situasi seperti ini, langkah sederhana yang Adi lakukan adalah

memberikan yel-yel sapaan kepada siswa dan mengenalkan serta mendorong guru untuk membiasakan mengawali pembelajaran dengan menyapa siswa-siswanya.

Hasilnya seperti sapaan Chusnul, sang kepala sekolah yang dilakukan setiap mengawali jumat ceria, “Apa kabarnya hari ini siswa-siswi SDN 227 Bengkulu Utara?” Lalu dengan lantang siswa pun menjawab, “ Alhamdulillah, luar biasa, selalu ceria, Allahu

Akbar, eeeee……yaaaaaaa…eeee…eee…yaaa!”

Seperti dalam siaran pers Dompet Dhuafa Pendidikan, cara serupa diterapkan juga oleh guru-guru dengan berbagai inovasi yang mereka lakukan. Hal sederhana ini ternyata sanggup meningkatkan semangat para siswa dalam belajar.

Secara tidak langsung cara ini memberikan nilai pembiasaan budaya saling menyapa antara guru dan peserta didik. Harapan besar dari pembiasaan ini tidaklah berhenti pada sapaan guru ke peserta didik ketika sedang bersamaan di kelas saja, namun jauh dari pada itu juga ke peserta didik secara perorangan baik di sekolah maupun di luar sekolah secara perorangan.

Semangat yang ditunjukkan oleh para peserta didik ini mampu memberikan dampak positif bagi gurunya. Dimana sang guru menjadi semakin semangat dalam mengajar, dan semakin membangun kedekatan emosional dengan para peserta didik.

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan pendampingan di SDN 227 Bengkulu Utara ini,

ada perubahan yang signifikan di kelas 1. Helpy Permatasari, wali kelas 1, secara rutin memberikan sapaan dan yel-yel kepada peserta didiknya. Begitu bersemangat dan begitu ceria ketika Helpy mengucapkan yel-yel kepada para peserta didiknya, rasa nyaman tergambar sebelum melaksanakan pembelajaran.

Yel-yel juga memiliki fungsi untuk mengatur dan mengkondisikan kelas serta mengalihkan energi berlebih yang ada pada sebagian siswa. Energi yang biasanya mereka gunakan untuk berlari dan berkelahi saat belajar mampu dialihkan untuk

meneriakan dan mengungkapkan yel-yel penuh semangat dan keceriaan.

Sehingga kelas pun lebih kondusif dan menyenangkan untuk belajar. Inilah

cara sederhana yang diharapkan mampu menciptakan pola interaksi yang baik antara guru dan peserta didik, karena ini merupakan sebuah syarat dalam melakukan proses

pembelajaran.

Adanya penyemangat di awal pembelajaran menjadi dorongan bagi peserta didik

bahwasanya belajar itu menyenangkan. Tiadanya penyemangat di awal, bisa jadi akan

mendorong peserta didik untuk malas belajar serta ogah-ogahan untuk

mendengarkan gurunya.

Sehingga bukan tidak mungkin para peserta didik pergi ke sekolah terpaksa untuk menghindari masalah, pekerjaan-pekerjaan berat yang ada di rumah, atau bahkan hanya ingin bermain dan merasakan kebebasan dari rumah. Untuk itu, hanya satu hal yang mereka harapkan dari gurunya ketika berada di sekolah yakni sapaan dari guru.

Apa jadinya kalau para siswa tidak mendapatkan hak-haknya di sekolah

walau hanya sekedar hak sapaan yang bisa membangkitkan gairah belajarnya? Jadi, jangan pernah sungkan untuk menyapa para peserta didik kita, karena bisa jadi hal sederhana seperti itu justru sangat didambakannya.

 

Baca Juga :