Pendidikan Multikultural sebagai Alternatif Upaya Menjaga dan Melestarikan Budaya

Pendidikan Multikultural sebagai Alternatif Upaya Menjaga dan Melestarikan Budaya

Pendidikan Multikultural sebagai Alternatif Upaya Menjaga dan Melestarikan Budaya

Pendidikan Multikultural sebagai Alternatif Upaya Menjaga dan Melestarikan Budaya
Pendidikan Multikultural sebagai Alternatif Upaya Menjaga dan Melestarikan Budaya

1. Karakteristik Belajar Hidup dalam Perbedaan

Selama ini pendidikan lebih diorientasikan pada tiga pilar pendidikan, yakni menambah pengetahuan, pembekalan keterampilan hidup (life skill), dan menekankan cara menjadi “orang” sesuai dengan kerangka berpikir peserta didik.

Kemudian dalam realitas kehidupan yang plural, ketiga pilar itu kurang mumpuni dalam menjawab relevansi masyarakat yang semakin majemuk. Maka dari itu diperlukan satu pilar strategis yakni belajar saling menghargai akan perbedaan, sehingga akan terbangun relasi antara personal dan intrapersonal.

2. Membangun Tiga Aspek Mutual

  • Membangun saling percaya (mutual trust)
  • Memahami saling pengertian (mutual undrstanding)
  • Menjunjung sikap saling menghargai (mutual respect)

Tiga hal ini sebagai konsekuensi logis akan kemajemukan dan kehegomonikan, maka diperlukan pendidikan yang berorientasi kepada kebersamaan dan penanaman sikap toleran, demokratis, serta kesetaraan hak.

3. Terbuka dalam Berfikir

Pendidikan seharusnya memberikan pengetahuan baru tentang bagaimana berpikir dan bertindak, bahkan mengadopsi dan beradaptasi terhadap kultur baru yang berbeda, kemudian direspons dengan pikiran terbuka dan tidak terkesan eksklusif. Peserta didik di dorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir, sehingga tidak ada kejumudan dan keterkekangan dalam berpikir.

4. Apresiasi dan Interdependensi

Karakteristik ini mengedepankan tatanan sosial yang care (peduli), dimana semua anggota masyarakat bisa saling menunjukan apresiasi dan memelihara relasi, keterikatan, kohesi, dan keterkaitan sosial yang rekat, karena bagaimanapun juga manusia tidak bisa survive tanpa ikatan sosial yang dinamis.

5. Resolusi Konflik dan Rekonsiliasi Kekerasan

Konflik dalam berbagai hal harus dihindari, dan pendidikan harus mengfungsikan diri sebagai satu cara dalam resolusi konflik. Adapun resolusi konflik belum cukup tanpa rekonsiliasi, yakni upaya perdamaian melalui sarana pengampunan atau memaafkan (forgiveness). Pemberian ampun atau maaf dalam rekonsiliasi adalah tindakan tepat dalam situasi konflik komunal.

Berangkat dari pemahaman karakteristik di atas, pendidikan multikultural adalah gerakan pembaharuan dan inovasi pendidikan dalam rangka menanamkan kesadaran pentingnya hidup bersama dalam keragaman dan perbedaan, dengan spirit kesetaraan dan kesederajatan, saling percaya, saling memahami dan menghargai persamaan, perbedaan dan keunikan agama-agama, sehingga terjalin suatu relasi dan interdependensi dalam situasi saling mendengar dan menerima perbedaan dalam pikiran terbuka, untuk menemukan jalan terbaik mengatasi konflik dan menciptakan perdamaian melalui kasih sayang antarsesama.

Menurut Hujair A. H. Sanaky, dalam melakukan pembaharuan, pendidikan diharapkan mengorientasikan tujuannya lebih bersifat problematis, stategis, aspiratif, menyentuh aspek aplikasi, serta dapat merespon kebutuhan masyarakat. Kemudian dari kerangka ini, tujuan yang dirumuskan meliputi aspek ilahiyyah (teoritis), fisik dan intelektual, kebebasan (liberal), akhlak, profesionalisme, berkualitas, dinamis, dan kreatif sebagai insan kamil dalam kehidupannya.

 

Baca Artikel Lainnya: