Wawasan Politik Sultan Agung

Table of Contents

Wawasan Politik Sultan Agung

Wawasan Politik Sultan Agung – Sultan Agung sebagai raja Jawa memiliki wawasan politik yang luas dan jauh kedepan. Melebihi siapa pun termasuk yang hidup pada zamannya. Dalam bahasa ilmu politik atau kenegaraan ia menguasai rencana politik dokrin keagungbinataraan. Menurut dokrin itu kekuasaan raja Mataram kudu merupakan ketunggalan, yang utuh dan bulat, kekuasaan itu tidak tersaingi, tidak tekotak-kotak atau terbagi-bagi, dan merupakan total (tidak hanya bidang-bidang tertentu).

Karena wawasan politiknya yang demikianlah itu, maka benar-benar wajar kecuali Sultan Agung mengupayakan mempersatukan seluruh Jawa di bawah Mataram. Sejarah mencatat sebagai lokasi Mataram pada zaman Sultan Agung adalah seluruh lokasi Jawa Tengah, Jawa Barat sampai bersama dengan Karawang (Krawang), Jawa Timur sampai area Jember dan Madura. Usahanya untuk mempersatukan Balambangan (Banyuwangi) dan Banten belum berhasil.
Pada pas Mataram sedang repot di area Jawa Timur, muncul kebolehan baru di Jawa, VOC. Badan dagang ini pada tahun 1619 udah berhasil merebut Jakarta dan mendirikan di atas reruntuhannya, Batavia. Dari kota ini sesudah itu VOC merajarela di seluruh Indonesia.

Sultan Agung termasuk melemparkan pandangan politik keluarnya pulau Jawa. Ada segi khusus yang melatarbelakangi pandangan politiknya muncul pulau Jawa yang tentang bersama dengan pesaingnya di Jawa atau pandangannya yang jauh.
Surabaya sebagai saingan utama Mataram sebelah timur membawa Sukadana di Kalimantan Barat sebagai vasal, atau setidak-tidaknya sebagai mitra dagang. Surabaya termasuk menjalin kerjasama bersama dengan VOC. Palembang adalah area yang dibawah oleh Banten. Sementara itu kerajaan Banjarmasin bersaing bersama dengan Kerajaan Martapura.

Pelayaran VOC ke Maluku merupakan ancaman pula bagi kerajaan Makassar.

Keadaan yang penuh liku yang demikianlah tadi menyebabkan Mataram menjalin kerajasama ke kerajaan di luar Jawa. Mataram bersama dengan ada masalah payah mengalahkan Surabaya. Salah satu yang memperkuat Surabaya adalah Sukadana. Karena itu Sultan Agung kudu menundukkan Sukadana, dan ini dijalankan pada tahun 1622. Surabaya masih berkerjasama bersama dengan VOC di Batavia, dapat tapi tidak terjadi efektif, agar serangan Mataram atas Surabaya pada tahun 1625, serangan ke 6, berhasil menundukkan Surabaya. Banten adalah saingan Mataram di ujung barat. Kerajaan ini membawahkan Palembang. Kerajaan yang disebut akhir kurang suka bersama dengan statusnya sebagai bawahan Banten. Karena itu Palembang minta pemberian Mataram untuk melawan Banten. Mataram termasuk mengimbuhkan pemberian kepada Banjarmasin dikarenakan ancaman dari kerajaan Martapura. Kerajaan Mataram termasuk berkerjasama bersama dengan kerajaan Makassar. Ini mampu terjadi dikarenakan ke dua kerajaan Mataram dan Makassar sama-sama hadapi Belanda.

Terlepas dari kesuksesan kerjasama pada Mataram bersama dengan kerajaan-kerajaan lain di luar Jawa tersebut, Sultan Agung memiliki wawasan politik yang luas pandangan politiknya yang jauh, dan juga tidak dimiliki oleh raja-raja lain dari Mataram pada umumnya. Sultan Agung mengidamkan mempersatukan beragam kerajaan bukan hanya di Jawa, dapat tapi termasuk di luar Jawa.
Sultan Agung termasuk mengunakan wawasan politiknya untuk hadapi bangsa asing. Bangsa asing yang meraih perhatian dari Sultan Agung adalah belanda yang udah berhasil mendirikkan koloni di Jakarta, Batavia, dan Portugis yang berhasil mendirikan koloni di Malaka. Belanda (VOC) dan Portugis bersaing. Bagi Mataram paham VOC lebih merupakan ancaman. VOC merupakan ancaman yang angkut. Ini disebabkan oleh kedudukannya di Jakarta, yang relatif lebih dekat bersama dengan Mataram. Karena itu disaat usaha mengusir Belanda dari Jakarta pada tahun 1628 dan 1629 tidak berhasil, Mataram coba menjalin kerjasama bersama dengan Portugis di Malaka untuk berbarengan hadapi Belanda.

Kerjasama Mataram dan Portugis belum berhasil memukul VOC. Menghadapi ancaman itu VOC tidak tinggal diam. Ia justru mendahului mereka. Gubernur Jendral van Diemen pada tahun 1641 berhasil merebut Malaka dari tangan Portugis. Dengan ini Mataram kehilangan keliru satu harapan untuk mengusir Belanda dari Jakarta. Sebaliknya, Mataram malah hadapi Kondisi yang lebih susah untuk mengalahkan VOC, dikarenakan jatuhnya Malaka itu.
Dapat kami simpulkan dari info di atas bahwa Mataram bersedia menjalin kerjasama bersama dengan siapa saja baik dari kalangan bangsa Indonesia sendiri maupun dari kalangan bangsawan lain yang paham berbeda-beda agamanya. Dengan belanda pun Mataram senang berkerjasama. Ini pada lain dari ajakan Sultan Agung untuk berbarengan menyerang Banten, saingan Mataram di ujung Barat. Akan tapi VOC menolak, dikarenakan setelah Banten dikalahkan, VOC dapat menerima gilirannya. Namun demikianlah Mataram masih senang termasuk berkerjasama secara terbatas dalam penjualan beras kepada VOC.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :