Cerita dari Tarian Gatotkaca

Cerita dari Tarian Gatotkaca

Cerita dari Tarian Gatotkaca

Cerita dari Tarian Gatotkaca

Tari Gatotkaca menuntut

ketepatan gerak dengan iringan dan aba-aba dari alat iringan (semacam kentongan) yang disebut keprak, serta tembang yang mengiringinya. Selain itu juga dibutuhkan kekompakan dengan pasangannya. Kesalahan perhitungan olah gerak akan menampakkan kekakuan dan ketidaknyamanan karena terasa mengganggu harmoni yang dibangun. Ketidaktepatan hitungan juga akan mengganggu gerakan tari dari pasangannya.
Tari Gatotkaca Gandrung sebenarnya diambil dari kisah Mahabarta sebelum berlangsung perang besar: Baratayuda. Dalam kisah tersebut Gatotkaca jatuh cinta kepada Dewi Pergiwa, putri Arjuna. Lesmana Mandrakumara juga jatuh cinta kepada Dewi Pergiwa.
Dengan segala muslihat yang dimotori Patih Sengkuni, Lesmana melamar Dewi Pergiwa dan diterima. Demi mendengar itu Gatotkaca mendatangi Dewi Pergiwa dan ingin bunuh diri di hadapannya. Namun usaha ini digagalkan Pergiwa. Pergiwa mengatakan bahwa ia menerima lamaran Lesmana hanya untuk menguji seberapa besar cinta Gatotkaca kepadanya. Mengetahui hal itu Gatotkaca sangat senang hatinya. Akhirnya cinta mereka bisa bersatu dalam perkawinan.
Tari ini ingin menunjukkan sisi romantisme Gatotkaca yang selalu diidentikkan dengan ksatria yang gagah perkasa di medan perang. Penggambaran profil yang demikian seperti meminggirkan sisi-sisi kehidupan yang lain dari tokoh Gatotkaca, termasuk sisi percintaannya dengan wanita pujaan. Di balik kegagahan atau kesan macho ternyata Gatotkaca juga seorang yang romantis, lembut, dan gentle di hadapan wanita.
Romantisme itulah yang kemudian digarap dalam wujud  tari berpasangan yang sungguh menampilkan romantisme, kemesraan, kelembutan, kehangatan sekaligus juga kegagahan Gatotkaca, dan kehalusan yang sedikit kenes dari Pergiwa.

Baca Juga :