Guru bukan Sekedar Oemar Bakri

Guru bukan Sekedar Oemar Bakri

Guru bukan Sekedar Oemar Bakri

Guru bukan Sekedar Oemar Bakri

Di Indonesia

sejarah guru justru sempat pasang surut. Profesi mulia ini lama tidak begitu digubris. Disepelekan. Guru menjadi pekerjaan alternatif. Sebab menjadi guru berarti miskin. Potret guru masa lampau itu jelas terekam dalam senandung Oemar Bakri, karya Iwan Fals. Guru adalah sosok tua ringkih, berpakaian lusuh, berkacamata minus dan mengendarai sepeda kumbang di jalan berlubang. Tentu saja, dengan gaji yang minim. Satu-satunya yang menghibur paraOemar Bakri saat itu adalah gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Anehnya, di tengah keterbatasan itu, para guru tetap bekerja tanpa kenal lelah. Tidak terhitung lagi berapa banyak tokoh-tokoh penting di negara ini yang lahir berkat para guruOemar Bakri.    

Belakangan, terutama sejak lima tahun terakhir, nasib guru mengalami perbaikan. Gaji guru bukan hanya naik tapi juga digandakan lewat tunjangan profesi. Perawakan guru sontak berubah. Jauh dari kesan Oemar Bakri. Sudah jarang, bahkan mungkin tak ada lagi guru yang bersepeda kumbang. Sepeda-sepeda itu sudah tergantikan dengan sepeda motor bahkan mobil yang meluncur di aspal mulus. Berpakain lusuh apalagi. Dengan pendapatan yang kian membaik, banyak guru yang bahkan tampil lebih modis daripada pekerja bank.

Namun kita berharap perbaikan nasib guru itu berbanding lurus dengan perbaikan mutu pendidikan di negeri ini. Guru harus tetap menjadi penyelamat generasi, teladan dan juga tonggak bagi masa depan bangsa. Guru harus benar-benar fokus dalam mendidik siswa dan tidak lagi mengejar pekerjaan sampingan yang membuat profesi intinya terabaikan. Guru juga harus lebih memahami teori dan praktek proses belajar mengajar yang baik agar melahirkan siswa-siswa yang cerdas secara keilmuan, mental dan ruhaninya. Sebab, masa depan bangsa ini masih tetap berada di tangan para guru. Jika guru berkualitas maka yang akan lahir adalah generasi harapan bangsa. Tapi jika guru tidak profesional, maka generasi mendatang sudah pasti kelam. Sebab, guru tidak hanya bertanggung jawab secara akademis untuk meraih nilai bagus dan tinggi, tapi juga bertanggung jawab secara moral untuk mendidik dan menuntun siswa-siswinya memiliki etika, moral dan akhlak mulia.  

Di tengah gaji yang membaik itu, seorang guru bukan tanpa masalah, karena guru masih disibukkan dengan beberapa hal. Pertama, perubahan Kurikulum 2013 yang lebih detail dan rumit. Banyak guru yang mengeluh, sebab banyak pemateri saat sosialisasi yang tidak begitu paham dengan isi Kurikulum 2013. Belum lagi, tarik ulur terkait ujian nasional (UN) apakah tahun depan masih akan diberlakukan ataukah dihapuskan, bahkan di jenjang SMA, apakah akan menjadi salah satu pertimbangan (kompenen) untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) atau tidak.

Kedua, tak jarang guru akan mendapatkan caci maki ketika nilai akademis siswa tidak sesuai yang diharapkan, bahkan ketika seorang siswa menyimpang dari etika. Padahal, kalau kita mau jujur, pendidikan anak-anak (siswa) tidak hanya menjadi tanggung jawab seorang guru, tapi semua komponen, termasuk orang tua dan lingkungan sekitar. Baik buruknya masa depan generasi muda tidak hanya ada di tangan seorang guru, tapi banyak pihak.


Sumber:

https://areaponsel.com/kingmaker-apk/