Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit
Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “saya mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassallam bersabda: “setiap muslim yang menjenguk sesama muslim pada waktu pagi, maka ia akan dimintakan rahmat oleh 70 ribu malaikat sampai waktu sore. Dan apabila ia menjenguknya pada waktu sore, maka ia akan dimintakan rahmat oleh 70 ribu malaikat sampai waktu pagi, serta ia mendapat jaminan buah-buahan yang siap dimakan di dalam surga.” (HR. Tirmidzi)

Etika orang yang berkunjung (menjenguk):

1. Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat untuk berkunjung, dan hendaknya tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya untuk menghibur dan membahagiakannya.

2. Hendaknya mendekat kepada si sakit dan menanyakan keadaan dan penyakit yang dirasakannya, seperti mengatakan: “Bagaimana kamu rasakan keadaanmu?” Sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassallam .

3. Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan disehatkan. Ibnu Abbas htelah meriwayatkan bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wassallam apabila beliau menjenguk orang sakit, mengucapkan:
“Tidak apa-apa. Sehat (bersih) insya Allah”. (HR. Al-Bukhari). Dan berdo`a tiga kali sebagaimana dilakukan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wassallam .

4. Mengusap si sakit dengan tangan kanannya, dan berdo`a:
“wahai Allah Tuhan bagi manusia, Hilangkanlah kesengsaraan (penyakitnya), sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. (Muttafaq’alaih).

“Tidaklah seorang hamba Muslim mengunjungi orang sakit yang belum datang ajalnya, lalu membaca sebanyak tujuh kali:
“Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan yang menguasai arasy yang agung, agar menyembuhkan penyakitmu” kecuali ia pasti disembuhkan” 
(HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 2/210 dan Shahihul Jami’ 5/180)

5. Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas taqdir Allah subhanahu wa ta’ala dan jangan mengatakan “tidak akan cepat sembuh”, dan hendaknya tidak mengharap-kan kematiannya sekalipun penyakitnya sudah kronis.

6. Hendaknya mentalkinkan (menuntun bacaan pada orang yang akan meninggal) kalimat Syahadat bila ajalnya akan tiba, memejamkan kedua matanya dan mendo`akannya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassallam telah bersabda: “Talkinilah orang yang akan meninggal di antara kamu “La ilaha illallah”. (HR. Muslim)

Untuk orang yang sakit:

1. Hendaknya segera bertobat dan bersungguh-sungguh beramal shalih.

2. Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya adalah makhluk yang lemah di antara makhluk Allah lainnya, dan bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan tidak membutuhkan ketaatannya.

3. Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang dilakukan olehnya, dan segera membayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada pemiliknya, dan menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.

4. Memperbanyak dzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan beristighfar (minta ampun).

5. Mengharap pahala dari Allah dari musibah (penyakit) yang dideritanya, karena dengan demikian ia pasti diberi pahala. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassallam bersabda: “Apa saja yang menimpa seorang mu’min baik berupa kesedihan, kesusahan, keletihan dan penyakit, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah meninggikan karenanya satu derajat baginya dan mengampuni kesalahannya karenanya”. (Muttafaq’alaih)

6. Berserah diri dan tawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berkeyakinan bahwa kesembuhan itu dari Allah, dengan tidak melupakan usaha-usaha syar`i untuk kesembuhannya, seperti berobat dari penyakitnya.

Referensi :

Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari, oleh Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan
Riyadhus Sholihin(terjemah), Imam Nawawi
Hisnul Muslim (Kumpulan Doa Dalam Al-Qur’an & Al-Hadits), oleh Said Bin Ali Bin Wahf Al-Qahthani

(tambahan: jika ada orang sakit, BOLEH dibacakan Qur’an, namun aku sendiri TIDAK (dengan penekanan) untuk membacakan Yaasiin, meski yg sakit sedang dalam kondisi kritis (kesannya sudah meninggal). Pengalamanku, lebih baik membaca Ar Rahman (55) dan/atau Al Kahfi (18), yg condong ke arah rasa syukur+menenangkan keluarga+yg sakit. Mudah2an bermanfaat)

Sumber : https://bingkis.co.id/tsuro-apk/