Menikmati Episode Hidup

Menikmati Episode Hidup

Table of Contents

Menikmati Episode Hidup

Menikmati Episode Hidup
Menikmati Episode Hidup

NIKMAT berarti segala sesuatu pemberian atau karunia (dari Allah), diantaranya berupa kesenangan (hidup). Kesenangan hidup merupakan bagian cerita (yang seakan-akan berdiri sendiri) dalam episode hidup manusia. Dan sebagian kita, memandang nikmat hidup itu, hanya berupa kebahagiaan dan kesenangan semata. Padahal, Allah SWT jelas-jelas menegaskan dalam Alquran bahwa sesuatu apapun yang diberikan-Nya itu adalah kenikmatan hidup di dunia (baca: QS. 42:36).

Alangkah kasihan bagi orang-orang yang kurang iman dan ilmu. Sehingga, hari demi hari yang dilalui dalam hidupnya selalu diliputi kesengsaraan yang datang silih berganti. Kecemasan dan kegelisahan merupakan salah satu indikasi hati manusia jauh dari ketentraman -membuat nikmat yang ada tidak lagi dirasakan sebagai nikmat–.

Kita tentu sepakat, kalau dalam hidup ini begitu banyak hal yang tidak diinginkan, tiba-tiba datang menimpa. Permasalahannya, karena kita belum tahu ilmunya, perasaan pun semakin tertekan dan dapat ditebak akan berujung pada penderitaan. Tapi, bagi orang beriman dan tahu ilmunya, tentu hal itu akan diresponya secara bijaksana. Tepatnya, bagi orang beriman setiap episode hidupnya selalu diposisikan untuk ibadah. Yakni apabila memperoleh kebahagiaan, dia bersyukur. Dan bila mendapatkan kesusahan, dia bersabar dan tawakkal, lagi menyempurnakan ikhtiar. Sehingga kedua sikap hidup ini akan menjadikan tambahan pahala bagi mereka yang mampu melakukannya.

Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menyia-nyiakan setiap episode hidup di dunia ini. Nikmatilah setiap episode hidup bersama Sang Pemilik nikmat dan kehidupan itu sendiri, yaitu Allah Azza wa Jalla. Karena, bagi orang yang mengenal Allah, segala sesuatu kejadian yang menimpa diri hanyalah nikmat yang diberikan oleh-Nya semata.

Fenomena rencana Allah ini menarik untuk kita cermati, kadangkala kita sering marah dan kecewa dengan suatu episode hidup tertentu yang kit alami, namun setelah waktu berlalu ternyata “episode” tersebut begitu menguntungkan dan membawa hikmah yang sangat besar dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan sebelumnya. Padahal sebelumnya kita menyangka episode hidup yang kita alami tersebut merupakan sebuah musibah.

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang tinggal di sebuah dusun di kaki pegunungan yang sejuk di daerah Bandung. Kedua orang kakak beradik ini adalah bekerja sebagai petani dan biasa menjual hasil kebunnya ke pasar yang terletak beberapa jam dari desanya dengan jalan kaki. Salah satu hasil bumi yang biasa mereka jual adalah tape singkong, atau mereka biasa menyebutnya “peuyeum Bandung”.

Untuk menjual tapenya ini mereka biasa berangkat dari rumahnya pada pagi hari seusai shalat shubuh. Sebelum sampai ke pasar, mereka harus menyusuri dulu jalan setapak yang melawati persawahan dan perkebunan penduduk, baru mereka lanjutkan dengan naik kendaraan umum bak terbuka yang biasa mengangkut penumpang yang lain ke pasar.

Suatu saat, seperti biasa mereka secara berombongan dengan membawa dua pikulan penuh tape yang akan mereka jual ke pasar. Pagi-pagi sekali mereka berangkat, ketika sampai di tengah pematang sawah yang agak licin tiba-tiba pikulan sang kakak berderak patah. Tak ayal bila pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal yang mereka rasakan saat itu. Sepertinya saat itu mereka merasa menjadi orang yang sangat sial. Jualan belum juga dimulai, untung apalagi belum diraih, malah modalpun habis terbenam, dengan penuh kemurungan dan mereka kembali ke rumah. Para pedagang tape yang lain meneruskan perjalanan mereka ke pasar.

Tapi dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan yang biasa ditumpangi para pedangan tape terkena musibah sehingga seluruh penumpangnya cedera bahkan diantaranya ada yang cedera berat, bahkan meninggal. Satu-satunya diantara kelompok pedagang tapi yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang selamat hanyalah….dirinya, yang tidak jadi berjualan karena pikulannya patah. Subhanallah, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap kesialan besar, dua jam kemudian patah pikulan dianggap keberuntungan luar biasa.

Oleh karena itu, “fa idzaa azamta fa tawaqqal alallah” bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar namun hati harus tetap menyerahkan segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah SWT. Dan siapkan mental kita untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu Allah SWT. Inilah saatnya kita menikmati setiap episode apapun yang Allah takdirkan pada diri kita.

Baca Juga :