Sakit yang membolehkan berbuka adalah

Hal-hal yang Membatalkan Puasa

Hal-hal yang membatalkan puasa pada dasarnya terbagi menjadi 2 kategori, yakni:

1. Harus mengganti dengan puasa lagi (qadha)
Hal-hal yang membatalkan puasa yang termasuk dalam kategori ini adalah:
a. Memasukkan suatu ain (benda) ke dalam salah satu rongga badan
b. Muntah dengan sengaja
c. Istamna’
d. Haid dan nifas
e. Gila
f. Murtad

2. Harus mengganti dengan puasa lagi (qadha) dan membayar kaffarah
Adapun hal yang membatalkan puasa yang termasuk dalam kategori ini adalah jimak pada siang hari bulan Ramadhan dengan kemauan sendiri atau suka sama suka dan dimaksudkan untuk taladzdzudz/bersenang-senang/kesenangan. Jika tidak dimaksudkan untuk taladzdzudz, yang terkena kaffarah adalah yang memaksa, sedangkan yang dipaksa tidak terkena kaffarah meskipun puasanya batal (atau harus membayar qadha).

H. Orang yang Tidak Wajib Berpuasa
1. Kafir
Jika dia kafir asli , tidaklah dihadapkan perintah puasa kepadanya, di waktu dia masih kafir. Dia, diharuskan memeluk Islam. Adapun setelah masuk Islam, ia tidak wajib mengqadha puasa. Hal ini berdasarkan firman Allah (QS. Al-Anfal [8]: 39)
Jika dia bukan kafir asli, dengan kata lain murtad, maka selagi dia murtad dari Islam, tidak dihadapkan puasa kepadanya, lantaran puasa tidak sah atas orang murtad. Jika ia kembali ke dalam Islam lagi, barulah kita menyuruhnya berpuasa lagi dan wajib atasnya qadha untuk puasa yang ia tinggalkan selama murtad. Demikian menurut madzhab asy-Syafi’i.
Namun sebagian ulama tidak mewajibkan puasa yang ditinggalkan selama ia murtad.
2. Gila
Orang gila apabila dia sembuh, tidaklah wajib mengqadha puasa yang ditinggal selama dia gila, baik sebentar maupun lama.
3. Anak kecil
Walaupun puasa tidak wajib atas anak kecil, namun seyogyanya bagi wali menyuruh anak berpuasa, supaya terbiasa berpuasa sejak dari kecil, jika si anak sanggup mengerjakannya.
4. Sakit
Sakit yang membolehkan berbuka adalah yang menyebabkan si penderita tidak mampu lagi melaksanakan puasa atau bila ia berpuasa akan memperparah kondisinya, memperlambat kesembuhan, atau bahkan dikhawatirkan menyebabkan kematian.
5. Musafir
Safar yang memperbolehkan berbuka adalah yang berjarak minimal kira-kira 86 km. Safar ini, menurut jumhur ulama, harus dilakukan sebelum terbit matahari. Jika dia telah berpuasa saat memulai perjalanan (karena dia memulai perjalanannya sehabis shubuh), dia tidak boleh membatalkan puasanya. Meskipun demikian, jika ternyata dia tidak mampu menuntaskan puasanya karena perjalanan yang amat melelahkan, dia boleh berbuka dan wajib mengqadha.
6. Lanjut usia
Berdasarkan ijma’, seseorang yang lanjut usia dan sudah tidak mampu lagi berpuasa, dibolehkan untuk tidak berpuasa dan tidak diwajibkan untuk mengqadha. Namun, ia harus membayar fidyah yang diberikan pada orang-orang miskin. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 184.
7. Haid dan nifas
Wanita yang sedang haid atau bernifas, tidak wajib puasa atasnya, karena tidak sah dikerjakan puasa dalam masa berhaid atau bernifas. Akan tetapi apabila telah suci, wajiblah mengqadha puasa yang tinggal selama berhaid atau bernifas.
8. Hamil dan menyusui anak
Menurut fuqaha, apabila seorang ibu takut atas anak yang sedang disusuinya dan perempuan yang sedang hamil takut atas kandungannya, maka tidak diwajibkan baginya berpuasa, namun diwajibkan memberi fidyah.

Sumber: https://vds.co.id/