Tentang Lilin, Asal-usul dan Maknanya

Tentang Lilin, Asal-usul dan Maknanya

“Setelah menyalakan lilin kemudian ditiup sampai mati, Itu ritual yang tak kumengerti ketika tersedia perayaan lagi tahun, Pelajaran dari siapa? Maknanya apa? Supaya Apa?
Siapa pelaku pertama dan kapan?
Mungkinkah seorang berbuat sesuatu tanpa maksud?

JAWAB : Memang banyak perihal yang kami memandang sehari-hari tanpa tahu kapan itu di awali dan terjadi? Bahkan buku mengenai ensiklopedi asal-usul pun tidak dapat pernah lengkap, dikarenakan sebetulnya banyak penemuan di dunia ini, kendati tersedia yang mencatatnya, tetapi kami kerap melewatkannya.

Tentang LILIN, yang terbuat dari PARAFIN yang diberi sumbu pada jaman ini, pertama kali diketahui berasal dari ORANG MESIR 3000 SM yakni gunakan LEMAK SAPI yang diberi sumbu.

Selanjutnya, mereka gunakan ALANG-ALANG bersama SUMBU SERAT yang dicelupkan ke di dalam LEMAK CAIR selanjutnya didinginkan, dan lagi dicelupkan ke di dalam lemak cair, didinginkan, dan lagi dicelup sampai ketebalan tertentu. Namun, lilin di zaman itu belum sesempurna sekarang. Sering, ketika dinyalakan lilin mengeluarkan asap kehitaman. Atau, kerap terhitung mengeluarkan semacam gas dan aroma tak sedap yang menyebabkan mata jadi pedih.

Biasanya, lilin terbuat dari malam, lemak padat, atau materi lain yang terbakar secara lambat.Saat terbakar, panas api dapat mencairkan lilin dekat pangkal sumbu. Di abad pertengahan, lilin lemak banyak digunakan masyarakat Eropa. Namun harganya yang lebih mahal dibandingkan lampu lemak, menjadikan lilin sebagai benda mewah. Tak heran, waktu itu pengguna lilin sekedar kaum bangsawan.

Penelitian mengenai lilin tetap berlanjut, sampai lemak bersumbu digantikan lilin dari MALAM LEBAH yang beraroma wangi tanpa disertai bau lemak. Puncaknya, pada abad XIX, ahli kimia Prancis, Michel Eygene Chevreul, berhasil memisahkan asam lemak dari gliserin lemak agar menghasilkan ASAM STEARAT, bahan penting untuk menghasilkan lilin bermutu baik. Stearat bersama dua bahan yang ditemukan selanjutnya, yakni SPERMACETI dan malam PARAFIN, jadi bahan baku utama lilin.

Spermaceti terbuat dari lemak ikan paus. Kelebihan spermaceti adalah tidak mengundang bau pedas dan rasa pedih di mata waktu lilin menyala tak sekedar itu, batang lilinya tidak ringan lembek dan bengkok.

Selama perkembangannya, tersedia sebagian cara pembuatan lilin. Mulai dari yang hanya mencelupkan sumbu ke di dalam lilin, sampai gunakan mesin pencetak lilin, yang terasa dikembangkan pada abad XIX. Mesin itu terdiri atas tangki logam yang dipanaskan, kemudian didinginkan bergantian. Cara kerjanya, mula-mula sumbu disusupkan dari dasar cetakan, menembus lilin cair di dalam cetakan. Setelah cetakannya dingin dan lilin mengeras, sumbunya dipotong.

Lilin Ulang Tahun

Walau telah diketemukan LAMPU yang gunakan listrik (PX, PL, PLC, dlsbnya. ini arti untuk menyebut jenis-jenis bohlam, bagi mereka yang bergelut di bidang perlistrikan tentu paham), toh LILIN masih jadi penerangan yang banyak DICARI, lebih-lebih kalo lampu PLN MATI.

Walaupun asal muasal dari ritual meniup lilin lagi th. tidak diketahui, histori mencatat rutinitas ini di awali dari Kinderfest (Kinder di di dalam bhs Jerman bermakna anak-anak), sebuah perayaan lagi th. bagi anak-anak pada abad 18.

Disebutkan pula, rutinitas waktu itu memasang lilin-lilin yang melambangkan usia. Selain itu tersedia yang mengimbuhkan sebagian lilin untuk mengindikasikan “umur di jaman datang”. Di jaman sekarang, lilin dimaksudkan untuk mengucapkan keinginan sebelum saat meniup lilin.

Diyakini bahwa meniup seluruh lilin di dalam satu napas bermakna keinginan dapat terkabul dan orang selanjutnya dapat mendapatkan nasib yang baik di th. mendatang.

Lilin NATAL

Sebenarnya tidak hanya umat Kristiani saja yang gunakan Lilin sebagai salah satu pelengkap di dalam ritualnya, agama yang lain pun tersedia terhitung yang gunakan lilin sebagai anggota dari ritual keagamaannya.

Dalam rutinitas Gereja, lebih-lebih Katholik, di setiap altarnya tak terlepas dari ada LILIN di dalam meja altar tersebut. Penggunaan lilin natal itu tak terlepas dari rutinitas HARI RAYA HANUKKAH (Hari raya pentahbisan BAIT ALLAH) di Yerusalem 165 SM yang bertepatan bersama PERINGATAN NATAL YESUS, kerap disebut sebagai FESTIVAL CAHAYA. Biasanya dirayakan bersama menyalakan lilin selama 8 hari secara terus-menerus.

Tradisi Festival Cahaya waktu Natal Yesus Kristus, yakni PENYALAAN LILIN dan, pada zaman moderen tersedia yang melengkapinya bersama lampu Natal. Festival Cahaya di dalam konteks Natal kemudian dimaknai secara lebih luas oleh Yohanes 1:5, yakni TERANG mengalahkan GELAP.

Terang itu bersinar di di dalam kegelapan dan kegelapan tidak mampu mengalahkannya. (Yohanes 1:5)

Lilin Di Indonesia

Lilin di Indonesia pun mempunyai kisah yang tak kalah menariknya, lebih-lebih di tempat Sumatera Barat tersedia tarian yang disebut TARIAN LILIN, yang berawal dari Istana kerap ditarikan pada malam hari, sebuah tarian yang dipersembahkan oleh sebagian penari bersama diiringi musik. Para penari ini dapat mempunyai lilin yang dinyalakan pada piring dan dipegang pada setiap belah tangan mereka. Penari ini dapat menarikan tarian secara berkumpulan bersama memutar-mutar piring yang tersedia lilin menyala secara berhati-hati agar piring selanjutnya senantiasa mendatar, dan lilin tidak terpadam.

Menurut dongengnya, tari lilin diketemukan ketika tersedia seorang gadis yang ditinggalkan tunangannya pergi berdagang. Ketika KANGEN sang gadis senantiasa mencium dan membelai CINCIN TUNANGANNYA. Suatu hari cincin tunangannya itu hilang!

Dari pagi sang gadis mencari cincin tersebut, lebih-lebih sampai malam. Ketika malam ia kenakan lilin yang ditaruh di atas piring untuk penerangan di dalam mencari cincin tersebut. Gerakan gadis yang meliuk-liuk naik turun itulah yang jadi INSPIRASI tari piring.

Artikel Lainnya : https://tutorialbahasainggris.co.id/motivation-letter-5-cara-dan-contoh-membuat-motivation-letter-bahasa-inggris/

Demikian sedikit yang mampu saya jelaskan, sangat panjang kecuali ditulis lebih detil. Semoga bermanfaat.

Baca Juga :